
forte – 11 Desember 2025, World Bank baru aja ngeluarin update terbaru soal kondisi ekonomi Indonesia, dan hasilnya… yah, lumayan mixed feelings. Buat tahun 2025, ekonomi RI diproyeksikan tumbuh di angka 4,8%, sedikit naik dari prediksi sebelumnya yang cuma 4,7%. Tapi tetap aja, angka ini masih belum bisa nyentuh target pemerintah yang pengennya kita bisa ngebut sampai 5%–5,3%. Bahkan buat tahun 2026, proyeksinya masih sama: 4,8% lagi. Jadi, pertumbuhannya ada, tapi nggak kencang-kencang amat.
Dalam laporan “East Asia and Pacific Economic Update” edisi Oktober 2025, World Bank ngejelasin kenapa prediksinya kayak gitu. Intinya, kondisi global lagi nggak asik. Permintaan ekspor lesu, ekonomi dunia kayak masih kebanyakan drama, dan negara-negara di kawasan Asia Timur & Pasifik juga sama-sama lagi rem. Jadi meskipun kawasan ini masih tumbuh, kecepatannya nggak se-wow itu.

World Bank juga ngasih highlight penting: yang bikin ekonomi ngebut bukan sekadar gede-gedean belanja negara atau bikin defisit lebar. Yang paling krusial itu gimana uang negara dipakai dan seberapa tepat sasaran. Jadi, bukan soal seberapa banyak bensinnya, tapi seberapa efektif dipakai buat gerakin mesin. Belanja ke sektor-sektor vital—kayak transportasi, energi, pangan, sampai program peningkatan investasi—harus benar-benar ngena. Kalau belanjanya kurang “tepat guna”, ya efeknya ke ekonomi juga nggak masif-masif amat.
Selain itu, World Bank juga bilang kalau Indonesia perlu terus ngegas di reformasi struktural. Bahasa gampangnya: biar ekonomi makin ngebut, aturan main usaha harus makin simpel, investasi harus makin gampang masuk, dan produktivitas harus naik. Kalau reformasi ini jalan terus, peluang buat pertumbuhan yang lebih tinggi di masa depan bakal lebih terbuka lebar.
Dari sisi masyarakat, angka pertumbuhan yang masih di bawah target pemerintah jelas ada efeknya. Pembukaan lapangan kerja kemungkinan nggak secepat yang diharap, jadi persaingan cari kerja bisa makin ketat. Belum lagi soal daya beli yang bisa ikut kepepet kalau ekonominya nggak tumbuh signifikan. Buat anak muda, fresh graduate, atau yang kerja di sektor informal, ini bisa kerasa banget di kehidupan sehari-hari.
Yang bikin makin menarik, bukan cuma Indonesia yang lagi struggle. Negara-negara lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik juga lagi ngalamin perlambatan. Termasuk Tiongkok, yang ekonominya ikut kena tekanan. Karena hubungan ekonomi di kawasan ini kayak jaring-jaring yang saling nyambung, perlambatan di satu negara gede bisa ngasih efek domino ke negara lain—ya termasuk kita juga.
Overall, laporan World Bank ini kayak wake-up call buat Indonesia. Pertumbuhan kita masih positif dan stabil—nggak jelek, tapi juga belum bikin lega sepenuhnya. Kuncinya ada di gimana pemerintah ngatur anggaran, ngejalanin reformasi struktural, dan ngedorong sektor-sektor produktif biar makin kuat. Buat masyarakat, ini jadi reminder buat lebih aware sama kondisi ekonomi dan lebih hati-hati dalam ngatur keuangan.
